Jakarta — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Agustus 2026. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 312 Tahun 2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan, yang berlaku sejak 1 hingga 14 Agustus 2026.

Berdasarkan beleid itu, HBA untuk batu bara kalori tertinggi setara 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$124,44 per ton. Angka ini turun 5,62 persen dari periode kedua Juli 2026. Saat itu harganya masih US$131,85 per ton. Meski melemah bulanan, harga ini tetap 21 persen lebih tinggi dari tahun lalu, yang hanya US$102,22 per ton.
Tiga Kategori Lain Justru Naik
Berbeda dengan kategori kalori tertinggi, tiga klasifikasi HBA lainnya justru mengalami kenaikan pada periode ini:
- HBA I (5.300 kcal/kg GAR): naik dari US$89,90 menjadi US$93,27 per ton
- HBA II (4.100 kcal/kg GAR): naik menjadi US$65,48 per ton
- HBA III (3.400 kcal/kg GAR): naik tipis 0,42 persen menjadi US$45,27 per ton
Dirjen Minerba ESDM menjelaskan bahwa pergerakan HBA didasarkan pada harga transaksi aktual. HBA ini kemudian menjadi acuan penentuan HPB yang disesuaikan dengan kualitas fisik batu bara seperti kadar air, sulfur, dan abu.
Faktor El Nino dan Geopolitik Ikut Menekan Pasar
Di luar penetapan HBA domestik, sejumlah lembaga riset global merevisi naik proyeksi harga batu bara termal sepanjang 2026. Salah satu faktor pendorongnya adalah penguatan fenomena El Nino. NOAA memprediksi peluang >90% terjadinya El Nino sangat kuat di belahan bumi utara pada akhir 2026 hingga 2027.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi memberi dampak ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, cuaca yang lebih kering dapat memperlancar operasional tambang. Penurunan debit air di sungai jalur ekspor berisiko membatasi muatan tongkang dan menghambat pengiriman batu bara.
Ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi berpotensi mengerek harga batu bara termal hingga US$135–US$140 per ton pada akhir tahun ini.
Dampak bagi Pelaku IndustriKetegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi berpotensi mengerek harga batu bara termal hingga US$135–US$140 per ton pada akhir tahun ini.
Fluktuasi HBA menjadi perhatian utama produsen dan sektor pendukungnya karena memengaruhi volume produksi serta penyusunan RKAB tambang ke depan.



